reality show

Sore begitu pekat, puluhan awan hitam menggantung di langit-langit cakrawala senja. Sudah lima jam lebih tirai hujan menutup langit surabaya, sejak itu pula seorang gadis menginjak dewasa terdiam di sudut balkon depan lantai dua, pandangan mata kosong menatap bulir air lembut yang jatuh ke bumi. Alur waktu menghantarkannya pada keping kenangan, seperti sedang mencari sesuatu dalam memorinya.

Seolah waktu menghanyutkan benak pada menit sebelumnya, ketika seorang lelaki bertubuh tegap datang dengan muka kusam, tak terawat. Ia telah hafal ketika pria itu datang dengan wajah muram, berarti akan terjadi sesuatu yang menyenangkan di dalam rumahnya. Berarti sebuah awal dari pertengkaran² yang tidak pernah berakhir. Pertengkaran kedua manusia yang melahirkannya, orang tua`nya.

Dan, benar saja. Suara keras dari keduanya adalah awal dari rangkaian yang akan berlanjut dengan saling tampar, pukul, dan amarah yang tak terkendalikan. Seperti yang telah ia hafal di luar kepala, hari yang sama ia lewati hanyalah replay dari pertengkaran yang terjadi sejak belasan tahun sebelumnya.

Sedari balita ia telah menikmati pertengkaran² itu seperti sebuah reality show yang sering diputar beberapa stasiun televisi. Menikmatinya dengan ikut serta mengambil peran sebagai penulis scenario dan menjadikan kedua orang tuanya sebagai pemeran dengan talenta acting luar biasa. Ia menjadikan candu untuk melihat pertengkaran itu. Dan akan sangat menyesal bila ia melewatkan momen² pertengkaran itu.

Seperti kali ini, ia begitu sedih karena ini adalah puncak dari pertengkaran kedua orang tuanya. Ia takut tak bisa lagi melihat pertengkaran² lagi, karena sang ibu tak lagi mampu memberikan perlawanan. Ia melihat sang ibu meninggalkan rumah dengan lebam membiru di wajah beserta lirih tangis ketika menoleh padanya yang termenung di balkon depan.

sin fallen

Sore ini, langit begitu cerah dengan sinar jingga menggantung di bagian bumi sebelah barat. Pun dengan sinar yang terpancar dari wajah cantik seorang wanita yang tengah berjalan memasuki kamar dengan membawa segelas susu hangat. Sang wanita tengah mencoba mendekati gadis yang tengah termenung di tepian ranjang, mencoba menjadi ibu yang mampu memberi perhatian lebih kepada anak tiri`nya.

"Lagi mikirin apa, sayang...??" tanya sang wanita lembut, sembari meletakkan nampan di meja belajar dan membawa gelas susu untuk 'anak'nya.

Sang gadis membisu, diam tanpa gerak dan suara. Hanya memandang sang ibu 'baru' dengan penuh selidik seolah mencari sesuatu untuk mengawali aksi`nya. Kemudian ia melihat gelas itu dengan penuh rencana.

"Segelas susu mungkin bisa menenangkanmu. Favoritmu di sore hari, khan..?" ucap sang ibu sembari menawarkan segelas susu dari genggam tangannya.

Gadis berkulit putih masih melihat segelas susu di depannya, mencermati hingga akhirnya ia mau menerimanya. Tapi tidak terburu meminumnya, masih dicermati`nya lalu tanpa di sanka ia membanting gelas bening berisi cairan putih itu. Seperti kesetanan ia menampar pipinya sendiri berulang kali sampai memerah, pun belum cukup sampai ia membenturkan keningnya ke tembok hingga berdarah.

Wanita yang berdiri di sebelah tempat tidur tampak mematung, ia seperti tak percaya pada apa yang di lihatnya hingga ia tak mampu menghentikan perbuatan anak gadis`nya.

"Ayaaahh..!! Toloongg...!!!" teriak sang gadis sambil terus menampar kedua pipinya.
"Tolooong..!!! Ayaah, tolooong..!!!" semakin kencang teriakan dan tamparan yang membuat ayahnya segera berlari dari ruang kerja menuju kamar anak gadis kesayangannya.

Gadis manis segera berlari memeluk sang ayah yang berdiri di depan pintu kamar, sambil terisak dia memeluk ayahnya begitu erat.

"Kau apakan anakku..?!!" teriak sang ayah kepada wanita yang masih terbengong di tengah kamar.
"Tante bilang adek harus minum susu itu yah, dia marah karna adek ngga mau minum susu buatannya...," isak sang gadis sambil terus menangis.
"Benar..?!!" tanya sang ayah geram sembari mendekati wanita yang masih terkejut mendengar pengakuan sang anak. "Benar yang dia bilang tadi...??"

"Plak...!!" sebuah tamparan keras mendarat di pipi kanan wajah cantik wanita yang belum sempat memberikan penjelasan.

Sementara sang gadis tersenyum kecil di balik pintu sambil terus memperhatikan pertengkaran kedua tokoh utama nya. Sepertinya, episode reality show terbaru nya akan bertambah seru.

-end


Soerabaya, awalan maret 2010
setiap episode reality show milik Nya
pun akan lebih seru...,,
elro seven
elro seven

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.