puli pecel Vs sambel tumpang

Jalanan mulai ramai ketika matahari menyengat bumi, riuh ramai kendaraan besi bersama celoteh mesin di dalamnya. Aku baru saja pulang dari tempatku bekerja, baru setengah dari rute perjalanan menuju kost`an dimana tak sabar untukku bermimpi lagi. Tapi sepertinya, rasa kantuk`ku harus mengalah pada rasa lapar yang telah kutahan sedari tadi malam. Kemudian, aku teringat menu sarapan yang biasa ku makan...,,

Dulu, seringnya waktu liburan, aku lebih suka hunting sarapan di pasar. Karena emang udah menjadi tugasku untuk kluar rumah dan berbelanja. Tempat pertama yang kudatangi sudah barang tentu adalah lapak dagangannya mbah Mus, si penjual puli pecel dan sambel tumpang langganan keluarga kami.

Dua menu favorite itu, puli yang di beri sayuran secukupnya dengan taburan sambel pecel adalah menu pembuka sebelum ibuk selesai memasak nasi untuk selanjutnya dimakan dengan sambel tumpang`nya. Sambel tumpang, entah bagaimana cara mereka membuat tempe bosok itu menjadi begitu lezat. Aku bukanlah orang yang terlalu pintar mendeskribsikan sesuatu, tentunya aku tak bisa begitu gamblang menjelaskan bagaimana bentuk dua makanan itu.

Dua makanan yang akan sangat sulit kutemukan di Surabaya. Selama lebih dari lima tahun aku berada di sini pun aku masih belum bisa menemukan menu itu. Teramat susah menemukan 'makanan mewah' itu. Kalaupun ada, bentuk dan rasanya tak bisa memenuhi standart rasa seperti makanan di kampung halaman`ku sana. Hingga sekarang aku mulai merindu makanan itu.

Tapi sejujurnya, aku belum menemukan makanan itu di sini. Tempat rantau`ku.

Tempat rantau di mana menu sarapan dan makan malam hanya tempe penyet, atau paling banter ya pecel. Lontong balap, tahu tek, yang tak cocok dengan lidahku dan tahu campur`nya pun tak seperti bentuk dan rasa dari tempatku berasal. Semua hanya lewat begitu saja, hingga akhirnya aku harus berfikir bahwa rasa ntu urusan belakangan, yang penting kenyang.

Pun akhirnya, aku memilih untuk mampir ke warung penyet.

Lagi?!!

-end



Soerabaya pagi, pertengahan december 2009
tapi tetep, lebih enak masakan ibuk....,, ;(

Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

3 comments:

  1. :-t njajal ng kertosono do....sopo ngerti nemu.....

    ReplyDelete
  2. aku wes biasa mas maem pecel sambel tumpang

    biasae c pecel Nganjuk

    ReplyDelete
  3. @ Sugenk; mosok onok, geng...?? :-?

    @ ibnu; pecel ntu beda sama puli pecel, lho nu...,,
    sensasinya beda....,, :))

    ReplyDelete

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.