môönwalker

Pengembara malam: In order to dream

Kubenamkan kedua tangan dalam saku jacket hitam yang mulai terlihat kumal, dingin surabaya malam dini hari ini lebih gila dari yang kubayangkan. Lebih dingin dari ruangan ber-ac yang baru saja kutinggalkan, suhu semakin rendah ketika aku tiba di sebuah warung kopi seberang jalan gedung perkantoran yang baru saja kutinggalkan. Membuatku semakin tak sabar untuk menyruput kopi panas atau wedhang jahe dan membakar rokok kretek yang tersisa satu batang dalam bunkusnya.

Setibanya aku di warung kopi, kutemukan seorang kakek tua tengah terlelap di depan ruko dengan beralas kardus yang entah diperolehnya dari mana, dengan berselimut kaos kumal seadanya. Tangan keriputnya tengah melunker memeluk kedua lengannya, mencari kehangatan dengan hanya bermodal tubuhnya sendiri. Dia terlihat sangat pulas, menikmati dingin sepagi ini dengan mimpi yang entah diperolehnya dari mana. Atau mimpi yang hanya dimilikinya sendiri, tidak sepertiku yang sampai saat ini belum juga menemukan mimpiku sendiri. Atau dengan kata lain tujuan hidupku.

Stereotyp masyarakat yang terus mengoyak kepalaku untuk segera menemukan tujuan hidup setelah umurku telah mencapai pertengahan dua puluhan. Tapi apa yang kupunya saat ini sepertinya masih belum cukup untukku membangun sebuah mimpi. Status pelajar yang mulai dipertanyakan, pekerjaan yang masih belum layak, tabungan yang selalu habis dipertengahan bulan, dan masih banyak masalah yang harus kuselesaikan. Sementara waktu terus mengejarku bagai tornado yang siap menelan puing mimpi yang baru saja ingin kubangun.

Sejenak kulirik sang kakek yang terbangun dari buai mimpi, membetulkan letak tubuh yang keluar dari area tidurnya. Lalu tidur lagi, masih dengan pose yang sama, seolah tak menghiraukan dunia yang siap menelan tubuh dan mimpinya. Aku tersenyum melihat tinkahnya, dengan sedikit rasa iri hati kenapa aku tak bisa memiliki sedikit mimpi untuk kunikmati. Seolah hidup hanya untuk menjalani rutinitas seperti manusia kebanyakan. Bangun tidur, mandi, bekerja, ke kampus, sarapan, makan, belajar, kemudian tidur lagi. Mengulangi kegiatan yang sama setiap harinya hingga suatu kebosanan akan menyergapku suatu hari nanti. Aku masih menanti rasa bosan itu datang, sembari menjalani kehidupan seperti biasa. Meski tak mampu lagi menikmati nikmat kehidupan seperti nikmat kopi dan batangan rokok pagi ini.

"Kopine, mas...??" lelaki paruh baya meletakkan secankir kopi coklat kehitaman di depanku, diatas tikar dimana aku biasa lesehan menikmati jam istirahat.
"Suwon..." jawabku pendek sembari memulai ritual ngopi dengan menuangkan air coklat kehitaman itu pada tatakan gelas bening, mendiamkannya sejenak sembari menghisap kretek terakhirku. Pelan kunikmati kepulan asap racun putih kekuningan, kehangatan yang sering kurindukan di sela penat kerja di tengah malam hingga dini hari menunggu pagi. Menunggu mentari datang pagi nanti...,,

sin fallen

Pagi surabaya mulai terik ketika lankah keluar dari tempatku bekerja, beberapa menit sebelum beberapa manusia memulai aktivitasnya dalam hal yang sangat kubenci yaitu keramaian. Mendesis dan mendengung seperti sedang berlomba dengan deru mesin guna membuat suara yang semakin merusak gendang telinga ku. Manusia dengan berbagai rutinitas sebagai pilihan hidup mereka, dan atau beberapa yang masih terlena dengan mimpi tentu saja lebih memilih untuk tetap berbaring di tempat tidur empuk mereka. Seperti kakek tua yang kutemui tadi malam, ternyata dia masih tertidur di emperan toko seberang jalan sana. Ku dekati tubuh renta itu, hanya untuk sejenak mengintip mimpi yang ia miliki. Tapi seorang lelaki berbadan tambun terlebih dulu mendahuluiku, menggoyang tubuh sang kakek dengan kaki kanannya, menyuruh sang kakek menjauh dari toko yang baru saja ia buka. Tapi sang kakek tak bergeming, seolah ia telah hidup di dunia lain.

Dan... benar saja.., Kurasakan tangannya begitu dingin ketika hendak kuajak dia pergi dari emperan toko. Tak ada lagi denyut nadi ketika kugenggam pergelangan tangannya, tapi masih dapat kurasakan mimpi yang terus mengalir dalam tiap detak jantungnya. Mimpi yang tak dimiliki oleh kebanyakan manusia, kesederhanaan pada senyum yang ia berikan padaku sambil membisikkan sesuatu...,

"Kau telah menemukan mimpimu... ."

-end



Soerabaya, akhir juli 2009
Seperti satu mimpiku untuk memilikimu....,,




sometimes you just cant sleep, image by alexawsawrus-rex.deviantart.com
Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

6 comments:

  1. ell menunggu wujudnya mimpimu sayank....

    ReplyDelete
  2. tulisanmu punya aura mistis lho...
    ati² ntar ada jin yang kelura...heheheheh
    tu emang kejadian nyata ya??

    ReplyDelete
  3. @ elly sayang: terimakasihku, cinta....
    terima kasihku, karena kau telah sabar menunggu.., :*

    @ sugank: pertanyaanmu ko kayak istriku waktu baca cerpen ini...,, dan kujawab dengan tawa...,, haha..... .

    ReplyDelete
  4. wes sayang sayangan ngunu kok ngaku rung duwe lawan..?
    Hahahahaha....

    ReplyDelete
  5. @ om rawins: yo nek nang njobo yo ra ngaku tho, oms.....,,
    lek nang ngomah dewe yo di sayang²..,, hehe... ;))

    @ Elro: Suwon, mas...,, :D

    ReplyDelete

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.