a way back home

Dalam berjuta harap, aku ingin memberikan ratusan kalimat rindu untuk keluargaku. Atau paling tidak, cukup kepada Ibuk yang ku yakin juga tengah merindukanku. Sepertiku yang kini masih mencari jalan pulang pada keluargaku.

sin fallen

Mulai kubersihkan meja kerja dari tumpukan kertas yang belum selesai ku garap. Lelah menunggu tulisan shutdown itu hilang, kututup laptop hitamku dan memasukkannya kedalam tas dengan warna serupa. Segera kutinggalkan ruang kerjaku tanpa menoleh dan mengingat semua yang ada di dalamnya.

Langkah lelahku masih berjalan mantap ketika satu²nya sinar temaram dari neonbox bertulisakan 'EXIT' itu tertangkap oleh kornea. Kuangkat tangan kiriku setinggi dada, memastikan kalau waktu lemburku tak melebihi batas normal seperti kemarin. Ketika harus kubangunkan satpam untuk membuka pintu karna pulang lebih dari jam dua belas malam. Pun meski hari ini aku pulang jam sebelas, ternyata satpam itu juga sudah tidur di balik mejanya.

Angin malam segera menyapa ketika kulangkahkan kaki keluar pintu, memaksa bulu kuduk berdiri. "Tak biasanya surabaya malam sedingin ini," gumamku, seketika itu pula ada nada yang berlagu bersama angin yang meniup daun telingaku. Lagu tentang cerita kerinduan.

Mengingatkanku pada tanah kelahiran yang sudah lima tahun lebih kutinggalkan. Lima tahun yang lalu, pada jam seperti sekarang ini biasanya sering kugunakan untuk melingkar di dalam selimut kesayangan. Selimut putih kumal yang dijahit sendiri oleh tangan ibuku, tangan yang selama dupuluh empat tahun lebih merawatku. Tangan lembut yang sudah lima tahun ini tak lagi kurasakan dikarenakan egoku, pertengkaran besar karena kenakalanku waktu itu.

Anak muda pengangguran salah pergaulan, begitu mendahulukan pertemenan semu yang membuatku lepas emosi, hingga pagi itu ibu menemukan sebungkus ganja di saku celana yang hendak di cucinya. Pertengkaran hebat di dalam rumah yang membuatku jengah, hingga malamnya aku nekat kabur merantau. Bersama teman mengadu nasib ke Surabaya, meninggalkan kasih yang begitu menyejukkan hatiku, yang tak dapat tergantikan oleh siapapun.

Tapi, munkin. Kasih itu telah tergantikan oleh seorang wanita yang -tentu saja tidak semuanya- dapat menyejukkan hatiku ketika jiwa terasa dahaga. Ya, wanita itu adalah setengah hatiku yang lainnya. Jika tak ada hadirnya ataupun hanya suaranya, jiwaku seolah tak terasa. Seolah suaranya menyadarkanku dari lamunan, membuatku semakin ingin bertemu dengannya.

Maka segera ku melankah menuju Jazz hitam yang masih setia menunggu di depan kantor meski tak ada mobil lain yang menemaninya. Pelan kubuka pintu depan sebelah kanan, ku taruh tas hitamku di jok belakang sebelum melempar Motorola L6 di jok samping. Niatan untuk menyalakan mobil urung kulakukan ketika rindu pada kampung halaman serasa mencambuk hatiku.

Terlintas ide cemerlang, yang membuatku reflek meraih handphone yang baru saja kulempar tadi. Kutekan sebelas kombinasi angka yang telah kuhafal diluar kepala.

"Hey, hun..." suaranya kegirangan. "Masih lembur?" ucapnya merdu.
"Sayang, kamu di mana?"
"Masih di rumah.. Kenapa?"
"Emang ngga jadi pulang ke Nganjuk?"
"Ngga jadi...," jawabnya cepat.
"Kenapa?"
"Males aja, lagi pengen keluar sama kamu..."

Serasa ada lem yang merekatkan kedua bibirku, aku masih ragu ingin melanjutkan pembicaraan ini.

"Hallo..? Sayang...??" suaranya menyadarkanku.
"Ya...?"
"Are you alright..??"
"I'm fine. Listen, I want to talk something..."
"Ada apa sich? Kok nadanya serius gitu...???"
"Kamu mo ikut aku pulang ke Boyolali..??"

sin fallen

Jam tiga dini hari, diantara sepi resto daerah Sragen kunikmati angin malam, wangi khas pedesaan. Sawah yang mengelilingi resto ini membuatku semakin merindu rumahku. Rumah kecil yang juga terletak di pinggir desa, meski tak ada suara gemericik sungai, tapi suara jankrik di tiap malamnya seolah menyayikan lagu kedaimaian. Damai yang tak munkin ku temui diantara riuh kota. Tapi diantara senyum wanitaku, aku menemukan kedamaian itu.

"Ada yang lucu?" ucapku setelah menaruh cankir kopi warna hijau muda di atas tatakannya.
"Ngga ada...," senyum itu segera disembunyikannya dengan meminum es jeruk dalam gelas bening itu.
"Aneh...,," kubakar ujung Dji Sam Soe yang baru saja keluar dari saku celana depanku.
"Kamu ntu yg aneh..." ada raut kesal terukir di wajahnya.
"Kok bisa?"
"Karna sampai detik ini, kamu belum bilang alasanmu kenapa pengen pulang. Ngga ada rencana, ngga ngomong aku sebelumnya, ngga..."
"Aku cuman kangen mereka, itu aja..." jawabku pendek.
"Cuman itu aja? Sedangkan kemaren kamu bilang kalo ada meeting penting pagi ini, belum lagi presentasimu dengan..."
"Kamu ngga ada event, khan?" tanyaku khawatir.

Sebagai penyiar radio terkenal di Surabaya, sekaligus job nge-MC yang padat membuatku sulit mengingat jadwal kesehariannya.

"Bukan itu masalahnya..." ucapnya dengan mulut masih berisi makanan. Lalu disilangkannya sendok dan garpu diatas meja sembari menghabiskan makanan dalam mulutnya, "Kemaren kamu sendiri yg cerita kalo presentasi siang nanti ntu penting banget buat kariermu. Kalo masalahnya cuman kangen khan bisa kita jadwal minggu depan."
"Hunny, It's not a big problem. Semalem aku dah telfon Mita, aku minta sama dia buat ngerubah jadwal pertemuan itu.."
"Terserah kamulah...,," ucapnya ketus.
"Anyway..." kugenggam tangan kanannya dengan kedua tanganku. "Is it okey if I want to introduce you to my mom?" wanitaku malah mengerutkan dahinya sesaat...
"Will you marry me?" ucapnya dengan senyum menggoda.
"Haey, thats my word!"

sin fallen

Sinar mentari membantu penglihatanku pagi ini, cukup jelas untuk membaca tulisan "MTsN Andong" tempat belajarku dulu semasa es em pe pada bangunan tua yang baru saja kulewati. Perempatan di depan berarti tikungan terakhir perjalananku. Seketika jantungku berdebar, bukan karena aku takut bertemu bapak dengan kemarahannya yang masih ku ingat saat terakhir kali sebelum aku kabur dari rumah, tapi perasaan aneh menjalar disekujur tubuhku. Ditambah lagi ketika ku temukan bendera merah berkibar di tikungan terakhir yang kumaksud tadi. Bendera yang melambangkan kematian.

Segera kumatikan sound yang menghentak oleh Hitam-nya Padi, memberi sedikit ruang untuk memperjelas pendengaranku. Ada alunan qiro` yang mengusap gendang telinga secara perlahan.

"Whats wrong, honey?"
"Im not sure, sepertinya ada yg meninggal..." jawabku pelan.

Sepertinya mataku sedang bermasalah, atau aku yang tak yakin dengan apa yang kulihat. Seolah tak percaya pada kornea yang melihat beberapa orang berbaju hitam masuk ke pekarangan rumah, rumahku.

"Semoga mataku sedang bermasalah dengan warna.." pintaku pada tuhan.

Karna perasaan tak nyaman ini masih saja menggerayangiku, membuat tangan dan kakiku bergetar, membuat laju mobil semakin terasa lambat. Maka kupilih untuk menghentikan mobil lima meter dari rumah, segera keluar dan berlari meninggalkan wanitaku yang setengah jalan mengikutiku dari belakang. Ku cari seseorang yang ku kenal sebelum melangkah ke dalam rumah, bertanya tentang semua yang sedang terjadi.

"Ada apa ini?" tanyaku pada seseorang teman lama.
"Kuatkan hatimu, Ibumu baru saja...."

Lalu hanya gelap yang dapat kulihat.

sin fallen

Dalam berjuta harap, aku ingin memberikan ratusan kalimat rindu untuk keluargaku. Atau paling tidak, cukup kepada Ibuk yang ku yakin juga tengah merindukanku. Sepertiku yang kini masih mencari jalan pulang pada keluargaku.

Maka segera kuraih Motorola L6 yang tergeletak diatas ranjang, meninggalkan computer dengan WordPad berisi cerita pendek untuk blog yang belum selesai kutulis. Mencari 'ibuk' dalam list phonebook yang tertera di layar, aku ingin mendengar suara Ibuk meski sebentar saja. Sekedar mengobati rasa rindu sembari menemukan jalan untuk pulang.


-end



Soerabaya, pertengahan mei 2009.
Cerita usang yang kuketik ulang dari buku tulisku,
cerita untuk menemukan jalan pulang pada keluarga.




the way back home, image by jockaz.deviantart.com
Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

7 comments:

  1. do......lu nyontek buku Hary Poter yo????? ~x(
    kok aku sampek suka bgt yo liat blog mu

    ReplyDelete
  2. @ eko: :D
    masih bingung, ya kom...?? hehe....

    @ Om DVX: :))
    ga mudeng ea, oms...??? emang disengaja........,,
    kangen, pengen cerpen rada panjang...,, hihi....

    @ sugenk: =))
    aku aja ga pernah baca Harry Potter... lha kok bisa nyontek lho, genk....??? :P

    ReplyDelete
  3. wah bang.. ketipu nie.. mus kira ibu bang rido2 bener2 dipanggil.. ngaget2in yg diceritain ibu sendiri sich..

    anak kosan kok punya mobil hehehe
    PEACE

    ReplyDelete
  4. @ omen: :P
    sirik aje lu, :P ntu khan ceritane udah punya kerjaan yang bagus...,, lagian mobile punya cewe`e kok... ngyahahaa....

    @ mas Bram: :D
    iya, mas... salam kenal juga...
    tapi kok profile-nya private, ya? :-/

    ReplyDelete

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.