jemari² itu

"Km senang kan, Q g jd ke tptmu. Biar km bs gdain ce2 yg maen internt, jg bs chating ma cw2 didunia enth beranth it." -elly-

Sepuluh jemari itu masih bergerak dengan lincahnya, menari diatas keyboard hitam mencetak kata demi kata pada layar monitor di depannya. Sepuluh jemari itu begitu lucu, tapi juga teramat menyebalkan. Karena mereka, aku sempat tersipu karna si empunya jari menatapku. Dia menangkap keganjilan kenapa tiba-tiba aku menggenggam setengah jemari tangan miliknya. Mungkin dia juga merasa, ini tak seperti biasanya.

"Ada yang salah?" dia masih menatapku.
"Mmm.. mungkin kita ganti saja kalimatnya..." terima kasih tuhan, aku menemukan alasan yang tepat. Lalu kami berdebat soal makalah yang harus kupresentasikan esok pagi.

Jemarinya mulai menari lagi, seolah sedang menggodaku untuk menghentikan tarian mereka. Atau dengan kalimat lain, sebenarnya aku ingin menggenggam tangannya. Menyelipkan jemariku diantara mereka, lalu bisa menciumi wangi yang selama ini membuatku penasaran. Apakah wanginya sama dengan keringat yang selama ini kuhirup ketika bersamanya. Mungkin juga, karna keringat keluar dari pori² kulit tho? Ah, kenapa aku sampai membayangkan kulit diatas jemari itu. Kulit putih kecoklatan dengan bulu² halus yg menghiasai pangkal ruas jemari. Kecuali ibu jari, dia tak memliki bulu di kedua ibu jari tangannya. Tapi malah kedua ibu jari itu saja yang memiliki kuku panjang diantara jemari tangan yang lainnya. Entah kenapa dia memeliharanya.

Atau mungkin kutanyakan saja padanya? atau malah meminta dia menggenggam tanganku? hmm... pasti teramat menyenangkan.

"Gadis? hoy..! hallooo...?!" tangan kirinnya melambai 10 centi di depan mataku, membuyarkan lamunan indahku. Lalu dengan tidak sopan tangan itu meraih jemariku, lima jari tangan kananku.
"Kamu ngga pa²? Dah capek ya?"
"Ngga... ngga pa² kok..." spontan ku tarik tanganku. Gila, kenapa mukaku panas begini? Yah, ga ada kaca. Pasti pipiku merah, dia sungguh tidak sopan! Tapi ngga pa² dech. Setidaknya, khayalanku menjadi kenyataan.
"Kita istirahat dulu aja dech, tinggal bab terakhir ini..." dia berdiri dari tempat duduknya. "Aku cari minum dulu ya?" bayangan itu berlalu.

Dan masih terasa kulit kasar yang 2 menit lalu menyentuhku. Oh, tidak. Sebenarnya, telapak tangan itu tak terlalu kasar. Hanya saja, terasa aneh waktu menggenggam tangan kananku. Diantara kulit itu terasa getaran yang membuat tanganku gatal, gatal ingin dipegang lagi. hihi..

♥♥♥

Ah, aku terlalu terpesona dengan jemarinya. Jemari yang tak bisa kulupa semenjak dia pertama kali menggenggam tanganku. Juga tadi pagi, saat jemari itu akhirnya dalam genggamanku.

"Gadis, pulang nanti aku jemput yah?" ucapnya pelan setelah kucium tangan kanannya.
"Iah, ati² bawa motornya." entah bagaimana kulukiskan kebahagiaanku dengan kata.

Bagaimana menejelaskan kebahagiaan ini, ketika akhirnya sebuah impian tercapai. Kebahagiaan ketika aku tak hanya memiliki sepuluh jemari itu, tapi semua dari milikknya. Tak hanya tubuh yang membuatnya ada, tapi juga hati yang melengkapinya. Ya, dia telah menjadi milikku seutuhnya. Dia sendiri yang mengatakannya padaku, ketika sore itu, lima tahun yang lalu, dia mengungkapkan ketertarikannya padaku. Dan pada penutupnya, dia bertanya apakah aku ingin memilikinya. Agar tak ada lagi gadis yang terus menerus mengganggunya, narsisnya dia waktu itu. Yah, dia memang suka berkelakar dengan prosentase lebih banyak memuja diri. Aku tersenyum kecut waktu itu, tapi juga berbunga dengan pertanyaan bodohnya. Haha, dasar cewe bodoh saperti aku ini mudah di rayu. Maka segera kuminta ia menjadi bagianku, menemani hatiku menjalani hari.

Sore itu, sepertinya baru kemaren saja aku aku melewatinya. Dua manusia muda dengan beragam kisah. Bukankah manusia muda memiliki banyak kisah yang takkan mampu mereka ceritakan dalam semalam? Sepertinya aku juga tak mampu menceritakan banyak kisah untukmu, karna aku masih harus menceritakan banyak kisah di tiap malam bersamamu. Tidur yang nyenyak yah? Aku akan menemanimu di sini.

♥♥♥

Tak sadar air mataku menetes, mendengar mbak Gadis terus berbicara dengan mas Ray, kakakku yang tergolek lemas diatas tempat tidur. Dengan jelas aku dapat melihat bagaimana mbak Gadis menciumi tangan kakakku yang tadi sore baru saja kecelakaan dan sampai sekarang masih koma. Bukan, sebenarnya aku tahu dia tidak hanya ingin mencium tangan mas Ray. Dia seolah ingin mencium seluruh wangi tubuh yang masih belum bersih dari darah itu.

Yah, aku masih berdiri di sudut ruangan. Menyaksikan bagaimana calon iparku seperti orang gila memandangi jemari itu untuk beberapa lama, kemudian menciuminya lagi. Dia seperti tergila-gila dengan jemari² itu, entah bagaimana caraku untuk menengkannya. Bagaimana cara memberitahunya bahwa besok pagi dokter akan mengamputasi kedua tangan yang telah mati itu.


Pagi yang indah...
awal agustus, 2008

Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

2 comments:

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.