SistPi

On 9/11/07, Muhammad Rosid Ridho <r1d0.aja@gmail.com> wrote:
m Ti... ngga tau kenapa, m Pi barusan sms gini:

"Kadang2 aku masih menyesali kita semua berpisah jauh2 ninggalin bapak ibu di rumah sendirian untuk sesuatu yang tidak tahu aku menyebutnya apa. Apa mungkin semua ujian2 yang sering menimpaku hanya karna Allah ingin meyakinkanku aku telah menjalani ini. Aneh rasanya. Semakin tua aku makin merasa hidup hanya panggung sandiwara. memiliki, suatu saat akan kehilangan juga. In memories of my daughters, they've rest in heaven. Don't ask what god gives2 u, just ask what u have. i miss both of u."

Setelah lama berfikir, aku malah patah semangat untuk berjuang di sini. Menjalani ini semua dengan meninggalkan orang tua kita berdua sendirian di rumah? Apa kita termasuk anak2 durhaka ya, mba? Dan, baru sekarang aku berfikir apa bapak ibu juga bahagia kita berada di sini? Apa mereka, seringnya, hanya bisa menggambar dalam bayang, tentang kehidupan anak2 tersayang mereka?

Berbeda dengan mba Pi, q disini malah dicoba nikmat oleh tuhan. Sampai kadang mata kabur memilah antara nikmat dan laknat. Sampai aku tak tahu jalan mana antara dosa dan zina. Semua penuh dengan gelimang kenikmatan dan kemudahan disini. Sampai kadang sms ibu ...

Dah lah mba... mungkin aku terlalu banyak bicara, aku ingin berdo'a untuk orang tua kita.

missin our time





--
Kemuliaan hati untuk sesama.



r1d0.aja


mail ini barusan ku kirim kemarin, dan setiap membaca tulisan ini lagi di waktu istirahat pada jam kerja; rasanya ibu terasa dekat, seolah sedang berada di belakang lalu memeluk punggungku. Dan masih terukir senyum ayah pada bayang samar di sampingku. Dengan rokok dan kopi kami, seperti biasa tiap malam yang kami habiskan bersama di rumah. I'm so home sick, I think.

Hingga kadang, air mata ini masih saja mengalir dan nafasku tersengal. Ketika lantunan ayat qur'an ibu merdu berbisik, atau wirid Bapak tiap kali ia selesai memimpin sholat. Hingga kadang kalo aku pulang ke rumah. ingin rasanya mencegah Bapak pergi ke mesjid. Aku ingin kami berjema'ah lagi. Setelah itu, kedua kakakku merdu membaca qur'an mereka.

Tapi kami kini berpisah, mba Ti yang berada di jakarta, mba Pi yang sekarang bersama suaminya di magelang, sedangkan aku berada di jauh surabaya. Dan orang tua kami, hidup (sendiri) berdua di boyolali.

Memang, media komunikasi telah sangat membantu kami untuk sekedar melepas rindu. sms yang ga terhenti, ato chat ma mba Pi yang tiap hari selalu da cerita baru. Tapi tetap saja, hati yang bersatu ini masih merindu waktu2 dimana kami sering berkumpul dan bercanda.

Hah, rasanya tak terbayang bagaimana puasa nanti aku akan terhujani seribu paku rindu di hatiku.

On 9/12/07, tanti aja <*********@yahoo.com> wrote:
aku kurang setuju dengan omongan mbak pi kemaren. she sms me too. life s a long journey, dari lahir..dewasa..tua. semua itu kan niatnya ibadah. coba kamu lihat dirimu. dibanding anak2 muda laen yg cuman bisa hura2...kamu dah banyak pahalanya. menuntut ilmu, kerja untuk menghidupi diri sendiri, ga ngrepotin ortu...itu pahalanya gedeee banget. klo kamu tanya ibu, beliau pasti bersyukur banget anak lanange bisa survive kaya sekarang. and im sure our parent proud of me too. coba kamu bayangin klo kita cuma ngumpul dirumah but do nothing...what will they say? jadi kamu harus terus semangat untuk terus berjuang demi diri kamu sendiri. mybe i must say that i proud of u too...u were my best brother ever. just keep doing ur best. INGET BAHWA SEMUA YG KAMU KERJAIN DENGAN NIAT IBADAH ITU ADA PAHALANYA. meski berjuang untuk diri sendiri. karena Rosul bilang "bekerja untuk menghidupi diri sendiri agar tidak bergantung pada orang lain ato meminta-minta itu nilainya jihad dijalan Allah" .....Semangat!!!!

can wait to meet u



Q barusan dapet balesan dari m Ti, kakak yg da di jakarta. semoga mang hidup dan berjuang di sini dapat menjadi jihad-Q. amien.




p.s.
sekedar coretan untuk kalian dengan keluarga yang masih berada dalam satu atap
semoga masih tersisa waktu untuk berbagi, berkasih, dan berbakti
nikmati waktu kalian, bersama.
Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.