gubuk hidup

Pada suatu senja ketika matahari pergi menyisakan sedikit cahaya warna jingga di salah satu garis bumi, seorang kakek tua berjalan pelan mendekati gubuk di tengah sawah jauh dari modernitas peradaban. Langkahnya gontai, terasa begitu ringan, dengan mengayun cangkul di tangan kiri. Setibanya di depan gubuk, tangan kananya meraih ceret yang tersisa seperempat air putih di dalamnya, diteguknya langsung tanpa menghiraukan rasa dan bau sangit nya. Sang kakek tua kemudian bersila diatas gubuk, sebelum pelan diletakkannya cankul pada salah satu kaki gubuk sebelah kiri. Kedua tangan keriputnya mulai asyik ngelinting mbako, seperti sedang mengawali sebuah ritual pemujaan sebelum mengakhiri 12 jam kerja kerasnya. Setelah selesai dengan batangan cigarette, kini tangannya mencari pemantik kesayangan yang slalu tersimpan di saku baju hitamnya. Dibakarnya ujung rokok tingwe dengan hisapan begitu dalam, mengisi tiap rongga paru²nya dengan asap tebal kekuningan.

Sembari menikmati batangan rokoknya, mata tua sang kakek menelusuri tiap jenkal sawah di depannya. Lirih terucap syukur dari gerak bibirnya, terulang beberapa kali hingga ia menghembuskan nafas panjang disertai asap yang keluar dari mulutnya. Tak pernah ia mengerti kenapa hidup slalu terasa begitu membahagiakan, atas smua pemberian yang slalu di terima nya lebih dari cukup. Empat petak sawah dengan hasil melimpah, gubuk gedhek yang slalu terasa nyaman, dan seorang istri setia yang slalu mendampinginya. Meski beberapa keturunan mulai melupakannya, ia pun tetap bersyukur dengan selalu mendoakan mereka mendapat kehidupan lebih baik di perantauan. Meski terkadang ia juga sangat merindu tawa anak-anaknya, seperti ketika mereka bercanda di atas gubuk tempatnya menghabiskan sore ini.

Tanpa terasa, cahaya sore mulai menghilang dari sinar mentari yang tersisa di sebelah barat. Sang kakek mulai memberesi ceret dan cangkulnya, menyelipkan rokok diantara bibir, melankah menjauh meninggalkan gubuk. Tak sabar ia ingin menemui sang istri yang pasti cemas jika ia pulang terlalu petang.

-end

Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

2 comments:

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.