denting

Seolah keinginan dan kesempatan slalu berbenturan, tak sempat berkompromi dengan keadaan yang terus memaksaku berlari menjauhi smua hal yang sebenernya ingin kunikmati. Bukan berarti aku tak perduli! Hanya tak ingin terlalu banyak berfikir tentang apa yang harus kujalaani. Seperti petuah yang selalu terucap oleh kakak tertuaku, bahwa hidup bagaikan air dimana kita hanya bisa menikmati mengikuti arus, adalah obat pmujarab ketika seorang pesakitan sepertiku tengah menemui jalan buntu dimana aku tak bisa lagi melankah.

Setidaknya aku tak ingin terus berkubang dengan nasib sial dan mengutuk nasib buruk yang slalu menimpaku; penganguran, pesakitan, and single. Ya, aku seorang pengangguran tak berpenghasilan yang masih punya rasa malu jika terus meminta aliran dana dari orang tua. Meski lulus dengan indeks prestasi kumulatif 3 koma, pun masih belum cukup bagiku memperoleh keberuntungan di dunia kerja. Ataukah aku yang terlalu banyak mencontek ketika ujian hingga aku tak memiliki ilmu dan skill yg dibutuhkan oleh perusahaan² itu? Perusahaan² keparat yang memberiku upah minim dengan setumpuk pekerjaan yang harus sudah selesai seminggu sebelum deadline.

"Gila..!!!" teriak`ku pada mereka sebelum akhirnya kuterjatuh di pembaringan, mengistirahatkan tubuh dan otak setelah akhirnya kanker menggerogoti rahimku. Gara² pekerjaan² gila itu aku tak sempat menjaga kondisi yang berakhir dengan minggatnya cowok brengsek yang menjajikan cinta ketika ia dulu menawarkan komitmen setia menemaniku. Tapi begitu tahu rahimku terkena kanker, ia langsung pergi membawa cintanya untuk ditanamakan di rahim wanita lain. Cinta? cinta tai babi.

Oh, kenapa sekarang aku pintar mengumpat? Ah, tak apalah. Sekedar membuang emosi sesasat, meski aku tak tahu sedang mengumpat kepada siapa. Kadang berteriak dan mengumpat menjadi obat mujarab untuk sakit yang mengakar dihatiku. Setidaknya, aku tak lagi menangisi alur hidupku, atau kadang menyalahkan tuhan atas lakon yang telah ia berikan. Tak sepatutnya aku terlalu banyak menuntut smua kemudahan darinya, karna ia telah memberiku banyak kemudahan.

Ya sudahlah, rasanya aku harus beristirahat untuk operasi ku besok pagi.

Soerabaya, awal October 2009.
sue gak nge`blog, rek....,,

Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.