Banyu Sunyi

Lankah sang waktu berjalan terasa begitu lamban diantara hening malam dan redup cahaya bulan yang membantuku menelusuri jalan setapak menuju danau kecil di desaku. Aku menikmati hening sunyi yang menghantarku pada gerosan lamunan dan ukiran khayal yang membentuk pigora-pigora gambaran kehidupanku. Pada jejak kaki yang tertinggal dibelakang sana tergambar lamunan masa lalu, pada suara jankrik yang berlagu disekitarku sedang menceritakan apa yang sedang kulakukan, sedankan cahaya redup di depan sana samar terlihat masa depan. Dalam keheningan seperti ini, rasanya begitu mudah sang waktu mengulas tiap detik penggalan hidupku. Plot demi plot flashback mengingatkanku pada kelamnya masa lalu, hingga sekarang kutemui titik cerah kehidupanku yang mulai terarah.

Hingga tersadar aku telah sampai di tepian danau. Diantara pasir warna kelam dan tiupan angin mengusap helai rambutku, kulepas alas kaki sebelum berjalan menuju gerombolan batu besar diantara bendungan. Karena dialah, air dari kumpulan muara sungai berkumpul menjadi satu. Riak yang sebelumnya saling bergumul diantara derasnya liku sungai kini menjadi satu keheningan. Seperti kumpulan cerita kehidupan yang saling berteriak kemudian menjadi satu dalam diam. Sang banyu sunyi, yang kemudian mengingatkanku pada sebuah tulisan lama. Tulisan dari seorang lelaki pendiam yang menyimpan banyak cerita dalam kehidupannya. Setidaknya, aku pernah menjadi satu dari penggalan ceritanya.

Sin Fallen

Suatu malam aku tengah berjalan bersama seorang teman sepermainan, kedatangannya jauh² dari Solo dijadikan alasan agar aku mau menemaninya berjalan-jalan menulusuri malam Surabaya. Sedari sore tadi ia memintaku mengantarnya ke sebuah pertunjukan teater di Balai Pemuda. Setelahnya, kami menyempatkan waktu melihat pameran lukisan yang diselenggarakan di dalam gedung yang sama. Lankahnya terhenti sembari melihat detail lukisan selembar kertas usang ditemani sebuah pena yg terbuat dari bulu angsa. Lembar kertas itu masih bersih, berwarna biru muda seperti warna laut sebagai pancaran imaji langit. Sama sekali tak ada kata dalam kertas itu, bahkan tak ada tetes tinta yang menodainya. Sedangkan sang pena masih tergeletak begitu saja, seolah tak berdaya merankum kata demi sebuah kalimat pembuka.

"Bagus, ya?" suara gadis membuyarkan apresiasiku pada lukisan itu.
"Simple, tapi kaya makna." komentarku sekenanya, hanya membuang basa-basi seperlunya.
"Memulai sebuah originalitas karya memang tidak mudah," tangannya kembali menyentuh lukisan itu. Hanya saja, kali ini ia berhenti pada gambar pena yang tergeletak disebelah kertas biru muda tadi.
"Apapun itu, setidaknya berusaha memulai lebih baik daripada tidak mencobanya sama sekali." lankahku mulai meninggalkan lukisan itu. Beralih pandang pada stiap lukisan terbinkai pigora² etnik anyaman bambu, merankai makna keindahan yang tidak begitu saja tercipta.
"So? Kapan kamu mau nyoba masukin naskah ke penerbit?" kulihat pandang ceria dari kelopak matanya. "Setidaknya kamu harus memulai, daripada tidak mencoba sama sekali, bukan?" Seolah dia menyeranku dengan kata²ku sendiri sebagai bumerangnya.
"Hahaa.., Kamu selalu lebih pintar bermain kata-kata." candaku ditanggapinya dengan serius wajah yang tak senang mendapat jawaban tak semestinya. "Ayolah, lupakan masalah penerbit. Aku lebih suka membagi tulisan² fiksi itu bersamamu." rayu manisku pada gadis dengan character yang mirip denganku.
"Dengan hanya tulisan yang kita bahas di blog mu itu tak akan banyak membantu karna tak cukup banyak orang yang akan membacanya." ucapnya menggebu dengan semangat untuk mendukunku. Tapi aku masih tak berniat untuk mengikuti sarannya, "Buat apa naskah di tumpuk gitu... Bertelor juga ngga bisa, apalagi beranak?"
"Ya kalo tulisanku bisa kawin, munkin mereka bisa bertelor bahkan sampe beranak. Hahahaa...!!" Balasku tanpa sudi merubah prinsipku untuk menikmati kebahagiaanku, tidak untuk sekarang.
"Terserah kamulah.... ." ucapnya pendek sebelum berjalan mendahuluiku menuju pintu keluar.

Tak jauh dari pintu, lankahnya terhenti. Dari tubuh yang membelakangiku, terlihat tangannya tengah mencari sesuatu dari dalam buku yang sedari tadi dipegangnya, diantara lembaran buku itu ia mengeluarkan lembaran kertas berwarna biru muda. Diserahkannya padaku saat aku sudah berada di depannya.

"Jangan lupa datang besok malam." Dipegangnya tanganku untuk memaksa menerima bunkusan kertas itu. "Setidaknya aku sudah mulai berproses daripada tidak mencobanya sama sekali." ucapnya pendek sebelum meninggalkanku termenung dengan undangan biru dalam genggaman tanganku.

Namaku jelas tertulis pada sudut kanan bawah cover undangan tersebut, dimana sebuah promo launching novel akan diselenggerakan dalam beberapa hari kedepan. Sebuah novel karya penulis muda dari Solo, seorang gadis yang juga teman sepermainanku. Nama yang kuberikan untuknya ketika kami selalu menghabiskan senja di sebuah danau dekat rumah. Nama itu, Banyu Sunyi.

Sin Fallen

Angin malam menyapu permukaan danau hingga membentuk gelombang² kecil yang menyuarakan riak air hingga mengusir keheningan sang banyu sunyi. Angin malam itulah yang telah membantu sang air hingga kemudian bersuara, dengan tenaganya untuk terus membantu sang air bernyanyi dikeheningan malam. Angin itu bagai lelaki yang terus memberiku semangat untuk terus menulis, memberiku ide dari tulisan² yang kubaca dari kertas elektronik yang selalu dibanggakannya. Meski hanya ada aku sebagai satu²nya pengunjung yang memeberi comment, kritik dan pujian baginya, toh dia tetap menulis.

Kegilaan-nya untuk terus menulis adalah awal untukku memulai sebuah cerita. Entah kenapa, hingga akhirnya aku terpancing untuk terus menulis. Berbagi cerita bersamanya, hingga terlibat debat panjang diantara blog kami. Diantara lembaran² blog itu kami belajar membenahi tulisan. Tulisan apapun, dari fiksi² memuakkan hingga fakta non-fiksi, dari curhat² cengeng hingga pembahasan arti ketuhanan, dari coretan diary keseharian hingga repost tulisan teman lainnya. Tempat itu layaknya danau di mana kami sering menghabiskan waktu sore, tempat dimana ia sering memanggilku, banyu sunyi.

-end



Soerabaya pagi, akhir Juli 2009.
Teruntuk beberapa teman, terima kasihku...




The Night and the Silent Water, image by alekrriah.deviantart.com
Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.