Angin

Angin akhir tahun membawa sejuk jiwa ketika malam menghantarku pada lamunan semu tak berujung. Terjebak antara mimpi dan nafsu akan nikmat dunia fana. Aku ingin menjadi seperti mereka yang bahagia, menjalani hidup dengan penuh senyum dan atau tawa menyertainya. Aku hanya ingin terlepas dari ini semua, seperti angin yang bebas bergerak kemana saja.

Apakah aku terbelenggu?

Dalam konteks obyek, sebenarnya tidak. Aku bebas menjadi seperti apa saja yang kuinginkan, dukungan dari mereka yang menyayangiku telah menyertai pilihanku. Menjadi seperti sekarang ini adalah berkat dukungan mereka, aku bahagia. Meski hanya pada awalnya.

Hingga pada akhirnya aku menyadari bahwa hidupku selanjutnya tak akan mudah jika aku tetap menjadi seperti ini. Tiba saatnya berfikir ulang, tentang hidupku sendiri. Tentang masa depanku.

sin fallen

"Ach, kenapa kopi malam ini terasa hambar?" Kuletakkan cangkir tepat di sebelahku, menemaniku duduk di balkon menikmati angin. Desahnya mengalir pelan diantara punggung dan leherku, terasa dingin. Sedingin jantung yang kurasa kian lama terasa membeku.

Tapi pada kenyataannya, jantungku masih baik² saja. Seperti hidupku yang terlihat baik² saja. Aku masih tersenyum bahkan tertawa kepada mereka, sekedar menutupi masalah yang tak kunjung ku dapati penyelesaiannya. Satu masalah datang ketika bulan lalu orang tua bertanya tentang kuliahku, minggu kemaren staff fakultas menahan hasil nilai karna pembayaran yang belum selesai, dan hari sebelumnya HRD Personalia memberikan pernyataan keberatan untuk mengambil gajiku bulan depan. Semua tengah menumpuk di otakku, seperti bom yang siap meledak kapan saja. Tapi pada akhirnya hanya kuanggap debu yang akan hilang tersapu angin.

sin fallen

Tentang masa depanku. Masa depan yang tak bisa kurencanakan, tak ada bayangan. Bahkan tak ada mimpi karna aku tak bisa bermimpi. Atau mungkin karna aku tak menginginkan mimpi, tak ubahnya seperti harapan semu seperti hayalan dan lamunan yang akan hilang ketika selesai berimajinasi. Aku tak ingin seperti itu, mempertaruhkan hidup pada mimpi. Tapi juga tak mampu membuat rencana untuk hidupku sendiri.

Mau apa selanjutnya, ketika kudapati rencana dan mimpi tak kupunya. Akan seperti apa jika keduanya tak memberi perubahan yang berarti. Perubahan mendasar yang kuharap akan segera berubah semudah membalik telapak tangan. Merubah sifat dan sikap, akankah semudah itu? Rasanya tidak, perubahan mendasar akan sangat sulit ku lakukan jika tak memulainya dari sekarang.



-end

Sorabaya, December 11, 2008
Aku berharap,
angin membawa terbang masalahku
bersama debu² itu.




wind, photo by hitomii
Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

5 comments:

  1. Hee?? Ini beneran kah??
    Huhu... Semoga masalahnya segera selesai (bukan diterbangkan). Dan, mulai dari yang kecil dulu... ;)

    ReplyDelete
  2. Hehe, cerpen kok mas.. :P

    As i wish, bisa selesai dari yang termudah...

    ReplyDelete
  3. ouw begini critanya...
    hmm..ya ya ya....

    betul tuh rid...selesai in dari yang kecil dulu...
    aku yakin kamu bisa...

    gutlak ya frend...:)

    ReplyDelete
  4. angin melebarkan jarak antara mimpimimpi kita
    jauh

    ReplyDelete
  5. @ Ratna: makasih na, thats mean allot fo me.. :D
    q berfikir menyelesaikan masalah adalah proses pembelajaran, bukan lari darinya...

    @ Eko: yah, begitulah ko... ;)
    semakin jauh, semakin hilang, dan tak ada yg harus ku impikan, sekarang saatnya membuat perencanaan...

    ReplyDelete

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.