cerita mimpi

Pernahkah aku bercerita pada kalian tentang wanitaku? Gadis manis yang telah telah menamiku dalam 50 tahun terkahirku, menjelma menjadi seorang wanita dengan kecantikan tak pernah merubahnya. Tentang senyum dan tawa ceria ketika kami tengah bercanda, tapi dia juga punya pandangan tajam menusuk kornea ketika marah merubahnya. Berhati lembut dengan selimut tegas pada tindakan yang membuatnya menjadi dambaan setiap pria. Ah, entah berapa pria yang telah kurobohkan untuk mendapatkannya, akhirnya dia memilihku. Memintaku menemaninya dalam hari yang akan kami lalui bersama.

Pagi itu, dua hari bulan madu kami di sebuah hotel di Bali. Tubuh kecilnya masih dalam pelukanku ketika kelopakku terbuka, dia masih terlelap. Menatapnya beberapa lama dengan wajah polos itu, dia begitu cantik dengan sebenarnya. Entah berapa kali kubaca pernyataan dari teman²ku di dunia maya, bagaimana cantiknya seorang wanita ketika mereka terlelap. Beberapa dari mereka yang pernah berkata padaku tentang kecantikan sebenarnya, dari fisik dan kepribadian yang terangkum pada istri mereka. Akhirnya aku bisa membuktikannya.

"Pagi..." terucap kata ketika kelopaknya terbuka, suaranya begitu lembut. Juga rambutnya.
"Bukankah rambut ini begitu lembut?" ketika ku belai helai rambut yang menutupi telinganya.
"Iah, juga kulitmu yg terasa beda. Spa kemaren sepertinya telah merubah kulitmu." ucapnya, sambil mengusap punggung dan bahuku.
"Ah, tak mungkin secepat itu. Sebenarnya aku tak suka kau memaksaku ikut ke spa. Kulitku jadi terasa rada gatal."
"Sebelah mana?"
"Punggung, tapi udah ga terasa lagi kok, semalam kau telah menggaruknya. Oh, mencakar lebih tepatnya... ahaha.."
"Gendut menyebalkan! Hentikan tawamu atau kulempar kau ke laut!"
"Ahahahaa..!!"
"Say, beratt!!" dia mencoba mengangkat tubuhku dengan tangan mungilnya. Dan tentu saja dia tak bisa melakukannya.
Segera kulepaskan pelukanku dari setengah tubuhnya. "Ahh.. kita mo ngapain hari ini?"

♥♥♥

"Han, yg ini buat ibukmu ya?" dia memperlihatkan daster warna hijau muda dengan motif bunga-bunga.
"Ah, terlalu terang..." ku taruh gelang kayu yang mau kucoba lalu mendekatinya.
"Kulit Ibuk kan putih, pasti cocok kalo pake ini."
"Ia, tapi ibuk punya banyak daster di toko. Ngapain beli oleh² baju kalo ibukku jualan baju?" ku cium wangi rambutnya. Entah kenapa ia ingin melepas jilbabnya hari ini, padahal udah delapan tahun lebih ia mengenakannya.
"Tapi kan ibuk ngga punya motif kaya gini," dasar wanita, dia seolah tak menganggap omonganku. Masih saja ia memilih beberapa daster yang dia bilang lucu itu. Kuturuti saja kemauannya, toh inilah mimpi yang sering diceritakannya saat kami pacaran dulu.

Ya, dia pernah sering bercerita padaku tentang mimpinya. Dunia yg ingin diciptakan bersamaku. Tentang bulan madu kami, tentang anak, tentang masa depan, tentang keluarga. Keluarga kecil yang bahagia seperti dongeng kebanyakan, mempunyai dua anak lucu dan merawat mereka hingga dewasa. "Setidaknya, satu dari mimpi itu telah berhasil ku ciptakan bersamanya." gumamku ketika aku melangkah keluar toko, menikmati Bali yg seringnya hanya mampu kubayangkan.

"Sudah.." ucap wanita yang kemudian meraih lenganku. memberikan senyumnya lalu melanjutkan berkeliling. Bali yang indah bersama wanitaku.

♥♥♥

"Sayang..." tangan wanitaku menyodorkan segelas kopi lalu meminta pahaku sebagai tempat duduknya. Sore yang cerah dengan matahari memerah
"Keknya ga pa² kalo kita punya 3 anak ato lebih. Empat mungkin?" seketika tersentak dan segera kusandarkan tubuhku, melepas pelukanku dari perutnya.
"Loh, kok berubah? Katanya cuman pengen dua aja?"
"Mmm.. abis enak waktu buatnya" diciumnya bibirku.
"Ahahaa...!! Kirain kenapa.. ahaha...!"
"Ngga, sebenere aku kepikiran gimana kalo aku tua nanti trus ga bisa merawatmu."
"Hahaha..! bulan madu kita masih dua hari dan kau sudah memimpikan hari tua kita?"
"Be serious! Yang kubicarakan bukan hanya mimpi, tapi..."
"Tapi kekhawatiranmu yang berlebihan." kuambil segelas kopi itu lalu meminumnya.
"Mm.. Kopi ini selalu nikmat." lalu kuletakkan di meja, menemani asbak dan laptopku.
"See, entah sudah berapa taun aku minum kopi seperti itu. Berbagai macam telah kucoba beserta rasanya. Tapi aku slalu suka yang hitam dan original. Tetes demi tetesnya terasa nikmat hingga tersisa ampasnya. Pun, ampas itu biasa kupakai untuk mengolesi rokokku dan membuatnya semakin nikmat. Kau juga seperti itu, tak terlalu manis dan..."
"Hitam..?!!"
"Bukan aku yg ngomong lho.."
"Dasar gendut menyebalkan!!" dicubitnya lemak berlebih diperutku, memuaskan dendamnya..."
"Auw.. auw.. ampuuuunn..!!"
"Terserahlah, smoga kau tak menyesal telah memilihku dan melihatku menjadi keriput!"
"Dia segera berlalu dan meninggalkanku.."
"Satu lagi," dia berhenti di depan pintu penghubung balkon dan kamar. "Kalau kau tak berhenti mengurusi blog menyebalkan itu, silahkan tidur di sofa malam ini!"
"Ahahahaaa...!! Kita lihat siapa yang memohon nanti malam.. ahaha..!!"

♥♥♥

"Hahh, hari berlalu dan tak terasa keriput telah mengukir tiap centi kulit yg dulunya terasa halus. Den seperti ucapanku, wanita itu tetap menjadi kopi favorite yg tiap hari kunikmati. Meski sekarang tak ada kopi itu lagi, aku tak akan pernah lupa nikmatnya. Kalian tau, meski cappuchino lebih menarik. Aku masih lebih menyukai kopi hitamku."

"Jadi jangan kalian paksa aku untuk menikah lagi."

"Tapi yahnda, bunda telah menitipkan yahnda pada kami. Kami mohon maaf karna kami harus tinggal bersama suami dan tak mampu.."
"Ahahahaa... Memang sudah sepantasnya, kewajiban istri haruslah mendampingi suami. Apa aku harus tinggal bersama kalian? Aku akan sangat senang melihat cucu²ku tumbuh dan berkembang. Agar aku bisa mengajari si galih merokok. Ahahaa..."
"Yahnda serius?"
"Mengajari galih merokok? Ahaha...!!"
"Memang benar ucapan bunda, yahnda terlalu menyebalkan. Terserah mbak aja, kliatane emang cuman mbak yg bisa ngomong sama ayah."
"Ahahaa...!! Lihatlah adikmu, dia persis seperti bundamu."
"Yah, kami sedang memikirkan bagaimana yahnda nanti jika sendirian dan..."
"Nduk, ada hal yg mungkin bisa dilupakan. Tapi ayah tak mau melupakan bundamu, juga smua kenangan bersamanya. Termasuk rumah ini, ayah akan sangat bahagia jika mati dirumah ini."

"Ah, sudahlah.. Ayah jadi pengen ngopi sore ini."

Mail yg indah el,
smoga mimpi itu terasa lebih manis suatu saat nanti.
September, 2008

Rosid Ridho
Rosid Ridho

This is a short biography of the post author. Maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec vitae sapien ut libero venenatis faucibus nullam quis ante maecenas nec odio et ante tincidunt tempus donec.

No comments:

Post a Comment

Web blog ini menerima semua comment, critic, caci maki, umpatan, bahkan penghina`an.
Karena kebebasan berpendapat juga telah di atur dalam undang-undang.